Durian Tembem
Nafas laki-laki muda itu terengah sehabis berjalan sekitar setengah kilometer, dari warnet tempatnya bekerja ke rumah kontrakannya. Dibukanya pintu dan diucapnya salam. Segera dia mengambil tempat duduk di meja makan di samping istrinya.
“Dinda Wi, ni Mas bawain Kupat Glabed*, kuahnya pakai kuah opor Blengong**. Cobain deh, enak.” Diletakkannya dua bungkusan plastik di depan istrinya.
“Cobain ya, Wi?” Senyumnya mengembang.
Istrinya, Wi, tersenyum.
“Kalo gitu Wi ambil sendok ma piring dulu.” Wi hendak berdiri.
“Eh, jangan, jangan, biar Mas aja.” Laki-laki muda itu berdiri.”Maaf Mas lupa ngambilin. Wi duduk aja, istirahat. Main-main dulu aja ma dedek di perut Wi, hihi.”
Di depan Wi ada sepiring Kupat Glabed hangat dan segelas air putih. Wajah Wi berseri-seri, kelihatannya enak. Dicobanya sesuap kuah. Wi meletakkan sendok ke piring, memandang suaminya.
“Pahit Mas, nggak enak.”
“Masa sih.” Puter mengernyitkan dahi. Diseruputnya sesendok kuah.”Nggak pahit kok, enak, sedep.”
“Pahit…Wi nggak mau.” Wi menggeleng-geleng pelan.
“Trus kalau Wi nggak makan, gimana? Kalau sakit gimana?”
wi menatap wajah murung suaminya.
“Mas Puter, Wi boleh minta sesuatu?”
“Apa?”
“Bukannya Wi nggak mau makan atau pilih-pilih. Lidah emang akhir-akhir ini suka pahit kalau dibuat makan. Wi pengen durian.”
”Ya deh, Mas beliin sekarang.” Puter tersenyum mantap.
“Mas…”
Puter urung berdiri.
“Wi pengen durian tembem…”
Puter melongo tapi segera disembunyikannya kekagetannya.
“Itu durian yang gimana dan belinya di mana, Wi?”
“Ya Mas cari…” Wi nyengir.
“Mas nggak tahu, Wi.”
“Aa..Mas nyebelin, pokoknya cari!” Wi cemberut.
“Iya, Mas cari.”
“Sekarang!”
“Iya iya. Mas berangkat ya, sayang. Wassalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Ati-ati, sayang.”
“Iyah, Wi jaga diri di rumah, ya?”
Bus kecil jurusan Slawi-Tegal berguncang-guncang di jalanan berlubang. Hampir sampai di perempatan Kejambon-Tegal tapi Puter belum juga tahu yang bagaimana itu durian tembem.
Puter menyambung perjalanan dengan angkot. Turun di jalan Setiabudi yang banyak penjual duriannya.
“Pak, duriannya jenis apa aja ini?” Puter memegang-megang buah durian.
“Itu mas, yang itu bagus itu, durian Petruk, asli.” Penjual durian menunjuk ke tumpukan di bagian tengah.
“Hehe.. Pak, pernah dengar jenis durian tembem?”
Penjual durian tercenung.
“Durian tembem?”
“Iya Pak, istri minta dibeliin itu.”
“Nggak ada kayaknya Mas jenis itu. Mas salah, kali.”
“Durian jenis baru?” Timpal penjual lainnya.
“Tau deh, Pak. Istri, ngidam...”
Suara oooh bersahutan di antara penjual durian.
“Bentuknya kali mas yang tembem,” kata penjual yang lain.”Ini nih, ada yang gendut bentuknya. Lihat, deh!”
Puter menghampiri. Tapi dia ragu. Masa sih, durian tembem itu durian yang bentuknya tembem? Beralih dia ke penjual lain. Cepat-cepat disisirnya semua penjual di daerah itu, takut telat Maghrib. Nihil. Sudah adzan, sholat dulu.
Pasific Mall, Rita Mall, Marina Plaza, penjual pinggir jalan, kios-kios, Dinasty, Kita Mini Market, : tidak ada. Bingung. Yang didapat malah candaan dari orang-orang.
“Nyari saya aja, mas. Pipi saya tembem nih, manis kan?” Genit seorang pramuniaga berbaju serba merah.
Puter tersenyum kecut. Teman-teman, kenalan, saudara sudah di sms, tidak ada yang tahu. Tapi dibelinya juga setengah kilo durian Monthong di mall buat jaga-jaga. Harganya selangit.
Puter murung membuka dompet, memandang puing-puing gajinya.
“Moga besok-besok banyak ketikan di warnet. Biar bisa beliin lagi durian buat Wi. Amin.”
“Gid!” Puter menghambur masuk Art of War Net.
“Weh, balik lagi Ter.”
“Iya nih Gid, mo nyari data. Eh, Tyo.” Puter tersenyum pada Tyo yang baru dilihatnya ada di belakang Sigid.
“Dapet, duriannya?” tanya Sigid.
Tapi Puter sudah berlalu, langsung menuju komputer yang kosong. Send all ke list Yahoo! Messengernya. Bertanya di channel-channel mIRC. Google, astavista, catcha, wikipedia, yahoo!, sampai nyasar di softarchive yang tempat postingan software, tidak ada juga.
Puter menelan ludah, pahit.
“Suara apa tu, Gid?” tanya Tyo.”Kaya ada yang ketawa ngikik.”
“Bukan ketawa itu.”
Tyo lebih seksama mendengarkan.
“Suara setan?”
Sigid mendelik.
“Mangnye ni warnet berhantu? Yang jaga kan alim, gue gitu.”
Mereka sepakat mencari asal suara.
Di komputer client nomor 6.
“Masya Allah!” Kejut Sigid.
“Kenapa lu, Ter?” Tyo menepuk-nepuk bahu Puter.
“Gue sedih, bingung..” Puter menahan isak, tapi tak terbendung juga gugunya.
“Ada masalah?” tanya Sigid.
“Lu pade tahu nggak durian tembem? Durian jenis tembem.”
Sigid dan Tyo menggeleng.
“Gue harus nemuin tu durian tembem. Harus...buat Wi.”
“Maksud lu..?” tanya Tyo.
“Wi ngidam, pengen durian tembem, gue cari di real dan cyber world kaga ada. Gue bingung. Kasihan istri gue kalau sampe nggak dapet tu durian.”
Tyo dan Sigid diam. Berpandangan. Mengangkat bahu.
“Susah juga ya, Ter.” Sigid garuk-garuk kepala.
Tangis Puter sudah reda.”Mending gue pulang dulu, hampir jam sebelas malam. Istri gue sendirian. Gue pamit ya, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Alaikasalam.”
Di komputer server billing, Tyo dan Sigid tertawa.
“Hihii... Huss, diem lu Tyo, kesian tau.”
“Lu aja yang diem, gue mau ketawa. Xiixixixi.”
“Wi dah maem?”
“Minum susu tadi, nggak selera makan.”
“Maafin Mas ya, kelamaan. Trus...Mas dapatnya ini..durian Monthong. Beli di mall.”
Puter mengeluarkan sebungkus durian dari tas plastik. Deg-degan.
“Maafin Wi, belum dapat durian tembem, besok Mas cari lagi. Sementara ini dulu, ya?”
“Nggak pa-pa, kok. Mas udah dapet, kok.”
“Hah?”
“Mas makan gih, duriannya.”
“Nggak ah, kan buat dinda Wi.”
“Wi pengen lihat Mas makan durian, Mas kan tembem.”
Puter memandang istrinya, tak mengerti. Wi tersenyum manis.
“Si tembem makan durian, hihiii. Makan gih, Mas. Abis itu Mas suapin Wi, ya? Makan nasi, Wi laper.”
“Jadi...? Oh... Alhamdulillah, Mas berhasil, ya?” Puter menangis, lega luar biasa bisa memenuhi keinginan istrinya.
“Alhamdulillah, Kau permudah, lagi-lagi Kau permudah. Wahai Yang Maha Kuasa.”
“Mas kok nangis, sih.” Wi tertawa geli.
“Abis Wi cantik, sih.” Puter menyusut air matanya.
sby, 27-28 juli 2007
*Masakan khas daerah Tegal. Ketupat berkuah kental dengan sedikit sayur dan remukan kerupuk mie. Sering dimakan bersama lauk, terutama sate kerang.
**Hasil perkawinan silang antara bebek dengan nila (entok).
“Dinda Wi, ni Mas bawain Kupat Glabed*, kuahnya pakai kuah opor Blengong**. Cobain deh, enak.” Diletakkannya dua bungkusan plastik di depan istrinya.
“Cobain ya, Wi?” Senyumnya mengembang.
Istrinya, Wi, tersenyum.
“Kalo gitu Wi ambil sendok ma piring dulu.” Wi hendak berdiri.
“Eh, jangan, jangan, biar Mas aja.” Laki-laki muda itu berdiri.”Maaf Mas lupa ngambilin. Wi duduk aja, istirahat. Main-main dulu aja ma dedek di perut Wi, hihi.”
Di depan Wi ada sepiring Kupat Glabed hangat dan segelas air putih. Wajah Wi berseri-seri, kelihatannya enak. Dicobanya sesuap kuah. Wi meletakkan sendok ke piring, memandang suaminya.
“Pahit Mas, nggak enak.”
“Masa sih.” Puter mengernyitkan dahi. Diseruputnya sesendok kuah.”Nggak pahit kok, enak, sedep.”
“Pahit…Wi nggak mau.” Wi menggeleng-geleng pelan.
“Trus kalau Wi nggak makan, gimana? Kalau sakit gimana?”
wi menatap wajah murung suaminya.
“Mas Puter, Wi boleh minta sesuatu?”
“Apa?”
“Bukannya Wi nggak mau makan atau pilih-pilih. Lidah emang akhir-akhir ini suka pahit kalau dibuat makan. Wi pengen durian.”
”Ya deh, Mas beliin sekarang.” Puter tersenyum mantap.
“Mas…”
Puter urung berdiri.
“Wi pengen durian tembem…”
Puter melongo tapi segera disembunyikannya kekagetannya.
“Itu durian yang gimana dan belinya di mana, Wi?”
“Ya Mas cari…” Wi nyengir.
“Mas nggak tahu, Wi.”
“Aa..Mas nyebelin, pokoknya cari!” Wi cemberut.
“Iya, Mas cari.”
“Sekarang!”
“Iya iya. Mas berangkat ya, sayang. Wassalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Ati-ati, sayang.”
“Iyah, Wi jaga diri di rumah, ya?”
Bus kecil jurusan Slawi-Tegal berguncang-guncang di jalanan berlubang. Hampir sampai di perempatan Kejambon-Tegal tapi Puter belum juga tahu yang bagaimana itu durian tembem.
Puter menyambung perjalanan dengan angkot. Turun di jalan Setiabudi yang banyak penjual duriannya.
“Pak, duriannya jenis apa aja ini?” Puter memegang-megang buah durian.
“Itu mas, yang itu bagus itu, durian Petruk, asli.” Penjual durian menunjuk ke tumpukan di bagian tengah.
“Hehe.. Pak, pernah dengar jenis durian tembem?”
Penjual durian tercenung.
“Durian tembem?”
“Iya Pak, istri minta dibeliin itu.”
“Nggak ada kayaknya Mas jenis itu. Mas salah, kali.”
“Durian jenis baru?” Timpal penjual lainnya.
“Tau deh, Pak. Istri, ngidam...”
Suara oooh bersahutan di antara penjual durian.
“Bentuknya kali mas yang tembem,” kata penjual yang lain.”Ini nih, ada yang gendut bentuknya. Lihat, deh!”
Puter menghampiri. Tapi dia ragu. Masa sih, durian tembem itu durian yang bentuknya tembem? Beralih dia ke penjual lain. Cepat-cepat disisirnya semua penjual di daerah itu, takut telat Maghrib. Nihil. Sudah adzan, sholat dulu.
Pasific Mall, Rita Mall, Marina Plaza, penjual pinggir jalan, kios-kios, Dinasty, Kita Mini Market, : tidak ada. Bingung. Yang didapat malah candaan dari orang-orang.
“Nyari saya aja, mas. Pipi saya tembem nih, manis kan?” Genit seorang pramuniaga berbaju serba merah.
Puter tersenyum kecut. Teman-teman, kenalan, saudara sudah di sms, tidak ada yang tahu. Tapi dibelinya juga setengah kilo durian Monthong di mall buat jaga-jaga. Harganya selangit.
Puter murung membuka dompet, memandang puing-puing gajinya.
“Moga besok-besok banyak ketikan di warnet. Biar bisa beliin lagi durian buat Wi. Amin.”
“Gid!” Puter menghambur masuk Art of War Net.
“Weh, balik lagi Ter.”
“Iya nih Gid, mo nyari data. Eh, Tyo.” Puter tersenyum pada Tyo yang baru dilihatnya ada di belakang Sigid.
“Dapet, duriannya?” tanya Sigid.
Tapi Puter sudah berlalu, langsung menuju komputer yang kosong. Send all ke list Yahoo! Messengernya. Bertanya di channel-channel mIRC. Google, astavista, catcha, wikipedia, yahoo!, sampai nyasar di softarchive yang tempat postingan software, tidak ada juga.
Puter menelan ludah, pahit.
“Suara apa tu, Gid?” tanya Tyo.”Kaya ada yang ketawa ngikik.”
“Bukan ketawa itu.”
Tyo lebih seksama mendengarkan.
“Suara setan?”
Sigid mendelik.
“Mangnye ni warnet berhantu? Yang jaga kan alim, gue gitu.”
Mereka sepakat mencari asal suara.
Di komputer client nomor 6.
“Masya Allah!” Kejut Sigid.
“Kenapa lu, Ter?” Tyo menepuk-nepuk bahu Puter.
“Gue sedih, bingung..” Puter menahan isak, tapi tak terbendung juga gugunya.
“Ada masalah?” tanya Sigid.
“Lu pade tahu nggak durian tembem? Durian jenis tembem.”
Sigid dan Tyo menggeleng.
“Gue harus nemuin tu durian tembem. Harus...buat Wi.”
“Maksud lu..?” tanya Tyo.
“Wi ngidam, pengen durian tembem, gue cari di real dan cyber world kaga ada. Gue bingung. Kasihan istri gue kalau sampe nggak dapet tu durian.”
Tyo dan Sigid diam. Berpandangan. Mengangkat bahu.
“Susah juga ya, Ter.” Sigid garuk-garuk kepala.
Tangis Puter sudah reda.”Mending gue pulang dulu, hampir jam sebelas malam. Istri gue sendirian. Gue pamit ya, Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
“Alaikasalam.”
Di komputer server billing, Tyo dan Sigid tertawa.
“Hihii... Huss, diem lu Tyo, kesian tau.”
“Lu aja yang diem, gue mau ketawa. Xiixixixi.”
“Wi dah maem?”
“Minum susu tadi, nggak selera makan.”
“Maafin Mas ya, kelamaan. Trus...Mas dapatnya ini..durian Monthong. Beli di mall.”
Puter mengeluarkan sebungkus durian dari tas plastik. Deg-degan.
“Maafin Wi, belum dapat durian tembem, besok Mas cari lagi. Sementara ini dulu, ya?”
“Nggak pa-pa, kok. Mas udah dapet, kok.”
“Hah?”
“Mas makan gih, duriannya.”
“Nggak ah, kan buat dinda Wi.”
“Wi pengen lihat Mas makan durian, Mas kan tembem.”
Puter memandang istrinya, tak mengerti. Wi tersenyum manis.
“Si tembem makan durian, hihiii. Makan gih, Mas. Abis itu Mas suapin Wi, ya? Makan nasi, Wi laper.”
“Jadi...? Oh... Alhamdulillah, Mas berhasil, ya?” Puter menangis, lega luar biasa bisa memenuhi keinginan istrinya.
“Alhamdulillah, Kau permudah, lagi-lagi Kau permudah. Wahai Yang Maha Kuasa.”
“Mas kok nangis, sih.” Wi tertawa geli.
“Abis Wi cantik, sih.” Puter menyusut air matanya.
sby, 27-28 juli 2007
*Masakan khas daerah Tegal. Ketupat berkuah kental dengan sedikit sayur dan remukan kerupuk mie. Sering dimakan bersama lauk, terutama sate kerang.
**Hasil perkawinan silang antara bebek dengan nila (entok).



0 comments:
Posting Komentar