Jumat, 23 November 2007

KUTUNGGU KAU DI ZHANYUAN

Kubayar tiket seharga 15 Yuan. Untuk memasuki Zhanyuan, taman kuno di kota Nanjing, propinsi Jiangsu, Cina. Seorang gadis cantik yang masih remaja agak tergopoh menghampiriku.
"Selamat siang, saya Wong Goat Lan, pemandu Anda." Gadis cantik itu tersenyum manis.
Kuperhatikan, kutaksir paling tinggi usianya delapan belas tahun. Badannya ramping, rambutnya seperti rambutku : panjang, hitam, lurus; dan seperti umumnya orang Cina dia berkulit putih bersih.
"Aku Dyah, dari Indonesia. Kita langsung berkeliling, ya?"
"Baik." Goat Lan mengangguk ceria.
Kuperiksa jam tanganku. Masih satu jam lebih sebelum pukul sepuluh.
Aku dan Goat Lan melewati gerbang utama lalu menyusuri sebuah koridor. Kuikuti Goat Lan yang berbelok mengambil jalan yang berhiaskan mozaik-mozaik. Tak begitu kupedulikan penjelasan Goat Lan tentang makna simbol mozaik-mozaik itu. Tapi untuk menghargainya aku pura-pura mendengar. Pikiranku ada di hal lain. Mungkin hanya sedikit dari pikiranku yang ada di Zhanyuan.
"Goat Lan. Bisakah kau antar aku ke Prasasti Harimau?"
Kutunggu kau di Zhanyuan, di Prasasti Harimau, datanglah ke Nanjing. Begitu e-mail yang kuterima beberapa waktu lalu. Tanpa berpikir panjang kutinggalkan Jakarta, membolos kuliah.
Goat Lan yang sudah selesai dengan penjelasannya tentang simbol mozaik memandangku heran.
"Anda mau langsung ke sana? Tidakkah Anda ingin berkeliling dulu? Nanti juga kita pergi ke sana."
Aku menggeleng."Aku akan menunggu seseorang yang sangat penting dan berarti bagiku di sana. Goat Lan, panggil saja aku kakak. Bisa kan kamu menolongku?"
"Kakak." Goat Lan tersenyum riang."Baiklah, kalau itu mau kakak."
Yang namanya Prasasti Harimau ternyata tulisan huruf Cina yang berarti harimau pada sebuah batu hitam. Aku dan Goat Lan sedari tadi berdiri tak jauh dari prasasti itu.
"Jadi kamu masih sekolah?"
"Iya, kak. Kalau hari libur aku sering menjadi pemandu di sini."
"Uang yang kamu dapat dari jadi pemandu digunakan buat apa?"
Goat Lan menggembungkan pipinya. Lucu sekali wajahnya, dan menggemaskan.
"Tambahan biaya sekolah," kata Goat Lan."Biar Ayah dan Ibu tidak terlalu capek bekerja."
Aku tercenung."Ayahmu kerja apa?"
"Kuli bangunan. Ibu tukang cuci piring di restoran."
Aku manggut-manggut.
"Kalau kakak jalan-jalan, mampirlah ke restoran tempat Ibuku bekerja. Namanya restoran Awan Pagi, kakak bisa tanyakan letaknya pada sopir taksi. Bebek gorengnya enak sekali, kak."
Aku tersenyum. Kukeluarkan sebungkus coklat, kubuka dan kupatahkan jadi dua. Kubagi Goat Lan. Jam tanganku menunjukkan masih sekitar setengah jam sebelum pukul sepuluh.
Kutunggu kau di Zhanyuan. Begitu e-mail yang kuterima. Di Prasasti Harimau.
“Kakak sungguh berani,” kata Goat Lan.
Aku mengangkat alis.
“Indonesia itu jauh,” kata Goat Lan lagi.”Kakak datang sendirian, kan? Berani sekali.”
Aku menggeleng dan tersenyum.”Kamu yang pemberani. Memilih tidak berpangku tangan, membantu orangtuamu.”
Goat Lan tersipu.
“Berapa saudaramu?” Pertanyaanku ini selain ingin tahu tentang Goat Lan lebih jauh juga untuk menghilangkan kegelisahanku. Orang yang kutunggu tak kunjung datang.
“Aku anak pertama. Adikku dua, laki-laki dan perempuan.”
Kuhabiskan coklatku. Pikiranku menerawang, mengapa dia belum juga datang? Aku yakin dia pasti datang. Lagipula, dia yang menentukan tempat pertemuan ini. Tempat yang jauh dari Indonesia.
“Kakak murung. Kakak menunggu pacar kakak, ya? Maaf kalau aku lancang.”
Aku tersenyum, kupandangi Goat Lan. Tiba-tiba ekspresi wajah Goat Lan berubah. Dia tampak iba kepadaku. Ah, mungkin tatapan mataku sayu, mungkin karena itu.
“Kakak bertengkar dengan pacar kakak? Teman-temanku sering bercerita padaku kalau ada masalah dengan pacar mereka. Maaf, aku belum dewasa seperti kakak. Tapi kalau kakak ingin bercerita silakan.”
Kuakui, lambat laun aku jadi jatuh hati pada Goat Lan. Berkali-kali kurasakan ketulusan darinya. Apalagi aku ini anak tunggal, seperti kutemukan sosok adik pada diri Goat Lan.
“Aku menunggu Ayahku. Dia akan menemuiku di sini.”
“Oh……”
Kuhela napas.
“Ini bukan soal pacaran, bolehkah aku bercerita?” Aku benar-benar meminta. Rasanya sesak sekali di dada.
“Dengan senang hati.” Goat Lan tersenyum.
“Aku anak satu-satunya dari orangtuaku. Karena ada masalah besar dengan keluarga besar Ibuku, masalah bisnis, Ayah bercerai dengan Ibu. Ayah pergi, dia…. Aku tak tahu ke mana Ayah pergi, Ayah kaya raya, dia bisa pergi ke mana saja. Bila kutanyakan pada Ibu, dia memarahiku. Aku sama sekali tak boleh mengungkit-ungkit soal Ayah. Aku tahu Ibu sekarang membenci Ayah, begitu juga sebaliknya.”
Kulihat jam tanganku, pukul sepuluh lebih.
“Ayah tak pernah berpamitan padaku, apalagi mengajakku pergi. Sepertinya Ayah membenciku. Karena suatu malam saat Ayah hendak menampar Ibu aku mencegahnya. Mungkin Ayah mengira aku berpihak pada Ibu. Padahal tidak. Aku tak berpihak pada siapapun. Aku cuma tak ingin mereka saling menyakiti. Aku tak ingin mereka berpisah. Tapi sekuat apapun aku mencegah, akhirnya mereka berpisah juga.”
“Diam-diam terus kucari Ayah. Aku sangat merindukannya. Nomor handphone Ayah sudah tidak bisa dihubungi. Hanya satu jejak yang kupunya untuk mencari Ayah, alamat e-mailnya. Lewat e-mail hampir setiap hari aku menghubungi Ayah. Selama setahun lebih. Kuceritakan kerinduanku padanya, kesedihanku, kuceritakan banyak hal. Di bagian akhir selalu kutulis,’Aku ingin sekali bertemu Ayah’.”
“Yang menyedihkan, Goat Lan, Ayahku tak pernah membalas e-mailku. Tapi aku tak pernah jemu mengirim e-mail. Hingga suatu hari Ayah membalas e-mailku. Aku senang sekali, aku menangis saking senangnya. Kubaca e-mail dari Ayah berulang-ulang. Dalam e-mailnya Ayah menulis,’Aku akan ada urusan bisnis di Cina yang belum selesai. Datanglah ke Cina tiga minggu lagi. Kutunggu kau di Zhanyuan, di Prasasti Harimau, datanglah ke Nanjing. Temui aku di situ tiga minggu lagi sejak tanggal kukirim e-mail ini’.”
“Tiga minggu itu berarti hari ini…………. Tapi Ayah belum juga datang.”
Kuhapus air mataku dengan punggung tangan. Tak kupedulikan orang-orang yang memperhatikanku. Untuk beberapa lama aku berusaha menghentikan tangisku. Kuterima sapu tangan dari Goat Lan.
“Kak Dyah.”
Kuangkat wajah.
“Aku akan menolong kakak. Kakak bawa foto Ayah kakak?”
Buru-buru kukeluarkan sebuah foto dari tas tanganku. Fotoku bersama Ayah dan Ibu. Aku berdiri di tengah-tengah mereka yang merangkulku. Kuberikan foto itu pada Goat Lan.
“Bagus. Ayo kita ke gerbang utama, kak.”

Di gerbang utama Goat Lan menunjukkan foto itu pada beberapa orang dan berbicara dengan mereka. Tak lama dia menghampiriku.
“Kata teman-temanku hari ini tak ada orang yang mirip Ayah kakak yang datang kemari. Seingat mereka juga beberapa hari ini Ayah kakak tak datang kemari.”
Aku nelangsa.
“Tapi kak, kalau kakak mengijinkan foto ini dititipkan dulu pada teman-temanku. Kakak bisa tinggal di Nanjing dulu untuk beberapa hari. Kalau Ayah kakak datang teman-temanku akan memberitahu, kakak ada handphone kan? Dan kakak bisa datang ke taman ini setiap hari. Kalau aku sekolah, salah satu temanku nanti yang menemani kakak. Aku juga setiap hari akan kemari, melihat perkembangan.”
Sebuah harapan menggembirakan hatiku. Kusetujui usul Goat Lan. Semoga Ayah cepat datang.

Goat Lan memberiku sebuah lukisan tinta hitam putih. Aku menyukainya. Fotoku bersama orangtuaku dilukisnya. Untuk gadis itu kuberikan kamera digitalku sebagai kenangan. Dan Ayah……sampai kuputuskan untuk kembali ke Jakarta Ayah tidak datang ke Zhanyuan.
(pwt-slw 0402-13082006) for `ma n `pa
Cempaka Minggu Ini

0 comments:

Template Design | Elque 2007