MATA MENUNDUK, HATI TENGADAH
Mula-mula tahun pertama Pram dijalaninya dengan berkutat di dapur kantin sebuah perusahaan travelling besar. Memotong ayam, mencuci piring, mengiris daging dan beberapa pekerjaan lainnya yang memerlukan keringat. Pram baru ke kamar kosnya setelah gedung itu hampir sesepi kuburan.
Tapi tidak hari ini. Dia harus bolak-balik dari dapur ke ruang makan. Marti sakit, jadi dia harus ikut melayani orang-orang yang hendak makan.
Pram sedang duduk mencangkung di kursi kayu sambil merokok ketika didengarnya langkah ringan sepatu. Tak-tuk-tak-tuk. Kantin sepi. Malas Pram mengangkat dagu ke asal suara. Dan dia melihatnya.
Sepasang sepatu yang membungkus sepasang kaki berukuran sedang. Rok lebar biru tua menjuntai ke bawah. Tersibak saat melangkah, memperlihatkan sedikit betis wanita itu yang berkaus kaki warna krem. Tiba-tiba Pram mengurungkan niatnya memandang wanita itu. Sebuah sekedar ingin tahu yang spontan. Pram menatap langkah kaki yang kini memasuki kantin. Langkah nan anggun di mata Pram, begitu mempesona.
“Nasi satu, mas. Es teh.”
Suara wanita itu biasa saja tapi menusuk dalam ke hati Pram.
“Iya, mbak.”
Sama sekali Pram tak berani menatap wajah wanita itu meski hanya sekilas. Melangkah cepat dia ke dapur menyampaikan pesanan pada Bu Parmi pemilik kantin.
Setelah meletakkan pesanan wanita itu di atas meja, tanpa memandang wajahnya, Pram bertanya,”Ada lagi pesanannya, mbak?”
“Enggak. Makasih.”
“Sama-sama.”
Pram mencangking sebuah kursi plastik berkaki empat. Meletakkannya di halaman kantin yang sempit dan mendudukinya. Pram menatap ke depan tanpa berniat memandang apapun. Dipusatkannya pendengarannya pada denting sendok dan garpu wanita itu, dua desah kepedasan karena sambal bajak, sendok yang mengaduk, satu kali sepatu diseret. Membentuk simponi yang mengaduk-aduk dada Pram.
Setiap malam Pram merindukan pagi, merindukan kantin Bu Parmi. Melebihi rindunya pada tanggal gajian. Bahkan pada kampung halamannya. Di kantin dia menunggu tanpa pernah dengan kentara memandangi pintu kantin. Tapi wanita itu tak selalu datang saat waktu makan siang. Dia makan di kantin di jam kerja sebelum waktu makan siang jika dia tak sempat sarapan di rumah. Hal itu diketahui Pram saat wanita itu datang bersama dua temannya, dari obrolan mereka saat bercanda. Dan Pram selalu menguping.
Za, begitu wanita itu dipanggil teman-temannya. Entah Za siapa. Bisa Faiza, Zaza, Riza, Zainab. Rindu Pram kadang nyeri.
Marti sembuh. Pram kembali ke belakang kantin. Tapi Pram memindahkan bangku kayu untuknya duduk saat beristirahat, tak ada pekerjaan atau sedang malas, dari halaman belakang kantin ke tempat Bu Parmi biasa meracik makanan. Dengan begitu Pram kadang masih bisa mengawasi pintu kantin.
Belum pernah Pram melihat wajah wanita itu. Pram akan menunduk atau membuang muka. Pernah majalah kecil wanita itu tertinggal di meja kantin. Pram mengambil dan membawanya ke kamar kos. Di majalah itu Pram membaca tentang ghadhul bashor, menundukkan pandangan. Pram kini rajin sholat.
Dengan sukarela Pram secara teratur membeli majalah seperti milik wanita itu. Terbit sebulan sekali, penuh kisah-kisah Islami.
Di tempat asalnya Pram berulangkali bertemu wanita-wanita berjilbab lebar dan lelaki-lelaki yang kebanyakan memelihara jenggot. Pram tak membenci atau menyukai mereka. Bagi Pram mereka bukan orang-orang aneh apalagi kalau hanya dilihat dari segi pakaian dan penamilan. Di saat orang lain bebas berpakaian dan tampil sesempit-sempitnya, seseksi mungkin, seterbuka-terbukanya; tak ada salahnya bila ada yang berpakaian dan tampil selebar-lebarnya, setertutup-tertutupnya, sesopan-sopannya.
Enam bulan. Pram bertekad mengenalnya, ta’aruf, kata majalah kecil yang kini jadi kesayangan Pram. Dengan keberanian yang sungsang-tindih ditulisnya sebuah surat dan dikirim lewat pos. Berharap balasannya pun datang lewat pos ke alamat kosnya, bukan ke kantin.
Raka’at Pram di qiyamullailnya bertambah. Tilawahnya bertambah. Begitu pula bertambah pula kegelisahannya.
“Ya Allah, betapa sejak bertemu bidadari itu hamba banyak berubah. Semoga ia perantara hidayah dariMu pada hamba. Jangan biarkan hamba berada pada kesesatan. Betapa berat ikhlas itu, ya Allah. Engkau tahu, sekuat mungkin hamba meminta yang terbaik menurutMu. Tapi dia yang ada di pelupuk hati hamba. Maka, bolehkah hamba pinta ia dariMu?” Begitu petikan do’a Pram.
Di kantin. Pram bekerja seperti biasa. Selalu ditunggunya kedatangan wanita itu. Gelisah Pram melimpah ruah. Tapi dikuatkannya wadagnya agar tampak tegar dan wajar. Pram ingin melihat wajahnya sekali saja.
Dan wanita itu datang. Cepat Pram menengok wajahnya. Mereka bertatapan.
“Za…,” batin Pram lirih.
Wajah itu biasa saja. Tapi Pram seperti tertarik ke pusaran samudera dan merasa sulit untuk kembali. Pram tersenyum tipis. Za mengangguk kecil. Mereka lalu memalingkan wajah.
Beberapa hari kemudian Pram membaca sepucuk surat di kamar kosnya.
…………
“Afwan, akh. Aku tak bisa bertemu denganmu untuk berta’aruf. Jika akhi menghendaki perkenalan untuk sebuah pertemanan, kukira kita sudah cukup saling kenal. Jika perkenalan itu untuk sebuah maksud yang lain, yang lebih dalam dari pertemanan, aku tidak bisa. Aku sudah mempunyai komitmen dengan seseorang, akh. Afwan, bukannya menolak. Semoga bisa memaklumi.”
…………
Esoknya Pram mengundurkan diri dari pekerjaannya. Seminggu kemudian ia meninggalkan kantin Bu Parmi. Pram ingin menundukkan hatinya.
slw, 15022007
Tapi tidak hari ini. Dia harus bolak-balik dari dapur ke ruang makan. Marti sakit, jadi dia harus ikut melayani orang-orang yang hendak makan.
Pram sedang duduk mencangkung di kursi kayu sambil merokok ketika didengarnya langkah ringan sepatu. Tak-tuk-tak-tuk. Kantin sepi. Malas Pram mengangkat dagu ke asal suara. Dan dia melihatnya.
Sepasang sepatu yang membungkus sepasang kaki berukuran sedang. Rok lebar biru tua menjuntai ke bawah. Tersibak saat melangkah, memperlihatkan sedikit betis wanita itu yang berkaus kaki warna krem. Tiba-tiba Pram mengurungkan niatnya memandang wanita itu. Sebuah sekedar ingin tahu yang spontan. Pram menatap langkah kaki yang kini memasuki kantin. Langkah nan anggun di mata Pram, begitu mempesona.
“Nasi satu, mas. Es teh.”
Suara wanita itu biasa saja tapi menusuk dalam ke hati Pram.
“Iya, mbak.”
Sama sekali Pram tak berani menatap wajah wanita itu meski hanya sekilas. Melangkah cepat dia ke dapur menyampaikan pesanan pada Bu Parmi pemilik kantin.
Setelah meletakkan pesanan wanita itu di atas meja, tanpa memandang wajahnya, Pram bertanya,”Ada lagi pesanannya, mbak?”
“Enggak. Makasih.”
“Sama-sama.”
Pram mencangking sebuah kursi plastik berkaki empat. Meletakkannya di halaman kantin yang sempit dan mendudukinya. Pram menatap ke depan tanpa berniat memandang apapun. Dipusatkannya pendengarannya pada denting sendok dan garpu wanita itu, dua desah kepedasan karena sambal bajak, sendok yang mengaduk, satu kali sepatu diseret. Membentuk simponi yang mengaduk-aduk dada Pram.
Setiap malam Pram merindukan pagi, merindukan kantin Bu Parmi. Melebihi rindunya pada tanggal gajian. Bahkan pada kampung halamannya. Di kantin dia menunggu tanpa pernah dengan kentara memandangi pintu kantin. Tapi wanita itu tak selalu datang saat waktu makan siang. Dia makan di kantin di jam kerja sebelum waktu makan siang jika dia tak sempat sarapan di rumah. Hal itu diketahui Pram saat wanita itu datang bersama dua temannya, dari obrolan mereka saat bercanda. Dan Pram selalu menguping.
Za, begitu wanita itu dipanggil teman-temannya. Entah Za siapa. Bisa Faiza, Zaza, Riza, Zainab. Rindu Pram kadang nyeri.
Marti sembuh. Pram kembali ke belakang kantin. Tapi Pram memindahkan bangku kayu untuknya duduk saat beristirahat, tak ada pekerjaan atau sedang malas, dari halaman belakang kantin ke tempat Bu Parmi biasa meracik makanan. Dengan begitu Pram kadang masih bisa mengawasi pintu kantin.
Belum pernah Pram melihat wajah wanita itu. Pram akan menunduk atau membuang muka. Pernah majalah kecil wanita itu tertinggal di meja kantin. Pram mengambil dan membawanya ke kamar kos. Di majalah itu Pram membaca tentang ghadhul bashor, menundukkan pandangan. Pram kini rajin sholat.
Dengan sukarela Pram secara teratur membeli majalah seperti milik wanita itu. Terbit sebulan sekali, penuh kisah-kisah Islami.
Di tempat asalnya Pram berulangkali bertemu wanita-wanita berjilbab lebar dan lelaki-lelaki yang kebanyakan memelihara jenggot. Pram tak membenci atau menyukai mereka. Bagi Pram mereka bukan orang-orang aneh apalagi kalau hanya dilihat dari segi pakaian dan penamilan. Di saat orang lain bebas berpakaian dan tampil sesempit-sempitnya, seseksi mungkin, seterbuka-terbukanya; tak ada salahnya bila ada yang berpakaian dan tampil selebar-lebarnya, setertutup-tertutupnya, sesopan-sopannya.
Enam bulan. Pram bertekad mengenalnya, ta’aruf, kata majalah kecil yang kini jadi kesayangan Pram. Dengan keberanian yang sungsang-tindih ditulisnya sebuah surat dan dikirim lewat pos. Berharap balasannya pun datang lewat pos ke alamat kosnya, bukan ke kantin.
Raka’at Pram di qiyamullailnya bertambah. Tilawahnya bertambah. Begitu pula bertambah pula kegelisahannya.
“Ya Allah, betapa sejak bertemu bidadari itu hamba banyak berubah. Semoga ia perantara hidayah dariMu pada hamba. Jangan biarkan hamba berada pada kesesatan. Betapa berat ikhlas itu, ya Allah. Engkau tahu, sekuat mungkin hamba meminta yang terbaik menurutMu. Tapi dia yang ada di pelupuk hati hamba. Maka, bolehkah hamba pinta ia dariMu?” Begitu petikan do’a Pram.
Di kantin. Pram bekerja seperti biasa. Selalu ditunggunya kedatangan wanita itu. Gelisah Pram melimpah ruah. Tapi dikuatkannya wadagnya agar tampak tegar dan wajar. Pram ingin melihat wajahnya sekali saja.
Dan wanita itu datang. Cepat Pram menengok wajahnya. Mereka bertatapan.
“Za…,” batin Pram lirih.
Wajah itu biasa saja. Tapi Pram seperti tertarik ke pusaran samudera dan merasa sulit untuk kembali. Pram tersenyum tipis. Za mengangguk kecil. Mereka lalu memalingkan wajah.
Beberapa hari kemudian Pram membaca sepucuk surat di kamar kosnya.
…………
“Afwan, akh. Aku tak bisa bertemu denganmu untuk berta’aruf. Jika akhi menghendaki perkenalan untuk sebuah pertemanan, kukira kita sudah cukup saling kenal. Jika perkenalan itu untuk sebuah maksud yang lain, yang lebih dalam dari pertemanan, aku tidak bisa. Aku sudah mempunyai komitmen dengan seseorang, akh. Afwan, bukannya menolak. Semoga bisa memaklumi.”
…………
Esoknya Pram mengundurkan diri dari pekerjaannya. Seminggu kemudian ia meninggalkan kantin Bu Parmi. Pram ingin menundukkan hatinya.
slw, 15022007
Cempaka Minggu Ini



0 comments:
Posting Komentar