PEMBUNUHAN TERAKHIR
“Buka kerudungmu, bitch!” Si rambut gondrong terhuyung maju.”Kau lumayan juga.”
“Hei, Brandon, kau kepingin tidur dengan wanita menjijikkan itu?”
Pemuda berkaus tanpa lengan terbahak diikuti temannya yang berjaket kulit.
“Shit, aku hanya ingin menyiksanya.”
Brandon berusaha menarik kerudung wanita ayu itu. Tapi tangan Brandon segera dihalau dengan tepisan. Wajah wanita itu pucat, menengok ke sana ke mari. Jalanan sepi.
Sebilah pisau di tangan Brandon berkilat sesaat oleh bias lampu jalan.
“Kau lari, kau mati.” Brandon meludah ke tanah.
Suara berdecit sebuah mobil yang berhenti. Seorang lelaki berambut pirang mengenakan mantel panjang sampai ke lutut keluar.
“Ada masalah, miss?”
“Menyingkir kau,orang kaya!”
“Atau kau benamkan pisau itu ke lambungku?”
“Kau pintar, maka cukup pintar untuk pergi dari sini.” Si jaket kulit dan temannya mendekat.
Rahang Brandon berderak oleh sebuah uppercut, lalu hook pada pelipisnya. Jaket kulit menjerit ketika selangkangannya kena tendang. Pemuda terakhir terhantam lambungnya dan kepalanya diadu dengan lutut.
“Miss, masuk ke mobil! Cepat!”
Wanita berjilbab dan lelaki penolongnya menaiki lift apartemen.
“Perlukah aku bertemu orangtuamu?”
“I..iya. agar mereka tahu jelas apa yang terjadi.”
“OK.”
Apartemen kecil yang nyaman. Ada beberapa rak penuh buku di ruang tamunya.
“Kopi atau teh, Mr. …?”
“Walker. Kopi, dengan krim tanpa gula, please.”
Setelah kopi terhidang Faiza, wanita berjilbab itu memperkenalkan dirinya dan orangtuanya. Ustadz Hasan dan Ustadzah Fatima.
“Aku sering mendengar tentang Anda, Ustadz Hasan. Aku Katholik tapi mengikuti perkembangan Islam sedikit-sedikit. Anda pimpinan komunitas Islam di sini dan orang yang baik.”
Walker dan Faiza bergantian menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami. Mrs. Fatima berkali-kali beristighfar. Setelah itu Ustadz Hasan dan istrinya dan anaknya berterima kasih dengan tulus pada Walker.
“Mr. Walker, bolehkah saya tahu mengapa Anda menolong saya?”
Mendadak wajah Walker murung, dia tersenyum.
“Aku sangat membenci siapa saja yang memusuhi orang-orang Islam.” Walker berdiri.”Well, aku minta diri. Mr. Hasan, mungkin aku akan berkunjung lagi ke sini, berbincang dan berdiskusi dengan Anda.”
“Pintu apartemen ini terbuka untuk Anda, Mr. walker.” Ustadz Hasan menjabat erat tangan Walker.
“Terima kasih untuk kopinya.” Walker mengangguk pada Ustadzah Fatima dan Faiza.
Walker tersentak bangun dengan peluh membanjir. Sudah lewat dari tengah malam. Walker menangis, menutupi wajahnya dengan tangan.
“Tatapan matamu itu, cahaya matamu itu….. I miss you, kau tahu itu, honey… Apakah kau maafkan aku?”
terburu-buru Walker menghampiri lemari es dan mengambil sekaleng bir. Ditenggaknya habis. Diremasnya kaleng bir dan dilemparnya mengenai dinding.
Ini kali keenam Walker menemui Ustadz Hasan. Kali ini Walker meminta waktu dimana hanya ada Ustadz Hasan di apartemennya.
“Anda pucat Mr. walker, sakitkah?”
“No…fisikku baik-baik saja. Mentalku, kukira.”
“Sakit kepala? Saya punya aspirin di kotak obat.”
“no, thanks.” Walker tersenyum tipis.
“Aku akan menceritakan sesuatu, Mr. hasan. Dan aku siap kalau Anda marah setelah mendengarnya. Bahkan aku siap jika harus kehilangan nyawa di tangan Anda.”
Ustadz Hasan terkejut.
“anda tahu, pekerjaanku adalah petugas keamanan di sebuah hotel. Hampir dua tahun ini. Ya, begitulah, jauh sekali dengan sebelum ini. Andai Anda tahu mengapa kini aku jadi seperti pembela Islam. Maukah Anda tahu?”
ustadz Hasan mengangguk.
Aisha menutup pintu rumah dan menguncinya.
“Aku tahu setiap malam Kamis jam segini kau pulang. Setelah mengajar sekumpulan orang di rumah salah satu dari kalian.”
aisha berbalik.
“Siapa kau?”
“Dan aku tahu malam ini kau sendirian, teman-temanmu pergi ke satu-satunya masjid di kota ini.”
“Bagaimana kau bisa masuk kemari?”
“Salah satu keahlianku.”
Walker menghunus pistolnya yang sudah dipasangi peredam suara.
“Mau apa kau?”
“Ada yang menyuruhku untuk membunuhmu. 15 ribu dollar.”
“Siapa dan mengapa?”
aisha meletakkan tas cangklongnya di sofa.
“Rahasia. Kata mereka kau banyak mengganggu.”
Aisha tersenyum.
“Kurasa aku tahu pihak mana yang menyuruhmu. Tinggi juga bayaranmu.”
“Berdoa’lah. Aku akan menembakmu beberapa kali agar kau mati tanpa kesakitan. Aku tak biasa menyiksa wanita.”
Aisha tersenyum lagi. Ditatapnya mata Walker. Laki-laki itu terkesiap.
“Sudah dari tadi aku berdo’a. alhamdulillah. Aku akan berteriak dan melawanmu. Jika aku mati semoga aku menjadi syahidah.”
“Kau…tenang sekali.”
Aisha melangkah maju. Walker menembak empat kali. Aisha jatuh ke belakang. Walker menghampiri.
Darah mengalir ke lantai. Aisha tersenyum. Napasnya tersengal.
“La..ilahail…lal..lah…”
mata Aisha terpejam.
Walker terpaku beberapa saat.
“Jangan mati…no. Apa yang kulakukan?”
walker mengguncang-guncang tubuh Aisha.
“Jangan mati…,” isak Walker.
“Kuurungkan niatku malam itu untuk menghabisi orang-orang yang menyuruhku membunuh Aisha. Aku berusaha berpikir jernih. Bisa-bisa teman-teman Aisha menerima pembalasan dendam. Aisha menyayangi teman-temannya, aku tahu itu.”
“Setahun kemudian orang-orang itu kubunuh. Jejakku rapi. Tapi akulah pembunuh Aisha. Pembalasan itu sama sekali tak berguna.”
Walker tak mempedulikan air matanya yang mengalir.
“Sebagai pembunuh bayaran, Aisha adalah korbanku yang terakhir. Wanita yang kucintai sampai kini…. Saat dia terbaring di lantai, menjelang kematiannya, seketika aku jatuh cinta. Tatapan matanya itu, cahaya matanya itu… Senyumnya…”
bahu bidang Walker terguncang. Lama.
Walker meletakkan koper di meja.
“Bukalah, Mr. Hasan.”
Ustadz Hasan membuka koper. Wajahnya pias.
“Pistol M9 9 mm Beretta, standar mariner AS. terisi penuh, berperedam.
“Tolong aku, kumohon tembak aku. Di sini, di mana saja. Semoga Aisha, Anda dan semua orang Islam memaafkanku.”
Hening lama.
Ustadz Hasan tersenyum teduh sekali. Sorot matanya memancarkan kelembutan. Tiba-tiba Walker merasa amat tenteram.
slw, 01-07032007
“Hei, Brandon, kau kepingin tidur dengan wanita menjijikkan itu?”
Pemuda berkaus tanpa lengan terbahak diikuti temannya yang berjaket kulit.
“Shit, aku hanya ingin menyiksanya.”
Brandon berusaha menarik kerudung wanita ayu itu. Tapi tangan Brandon segera dihalau dengan tepisan. Wajah wanita itu pucat, menengok ke sana ke mari. Jalanan sepi.
Sebilah pisau di tangan Brandon berkilat sesaat oleh bias lampu jalan.
“Kau lari, kau mati.” Brandon meludah ke tanah.
Suara berdecit sebuah mobil yang berhenti. Seorang lelaki berambut pirang mengenakan mantel panjang sampai ke lutut keluar.
“Ada masalah, miss?”
“Menyingkir kau,orang kaya!”
“Atau kau benamkan pisau itu ke lambungku?”
“Kau pintar, maka cukup pintar untuk pergi dari sini.” Si jaket kulit dan temannya mendekat.
Rahang Brandon berderak oleh sebuah uppercut, lalu hook pada pelipisnya. Jaket kulit menjerit ketika selangkangannya kena tendang. Pemuda terakhir terhantam lambungnya dan kepalanya diadu dengan lutut.
“Miss, masuk ke mobil! Cepat!”
Wanita berjilbab dan lelaki penolongnya menaiki lift apartemen.
“Perlukah aku bertemu orangtuamu?”
“I..iya. agar mereka tahu jelas apa yang terjadi.”
“OK.”
Apartemen kecil yang nyaman. Ada beberapa rak penuh buku di ruang tamunya.
“Kopi atau teh, Mr. …?”
“Walker. Kopi, dengan krim tanpa gula, please.”
Setelah kopi terhidang Faiza, wanita berjilbab itu memperkenalkan dirinya dan orangtuanya. Ustadz Hasan dan Ustadzah Fatima.
“Aku sering mendengar tentang Anda, Ustadz Hasan. Aku Katholik tapi mengikuti perkembangan Islam sedikit-sedikit. Anda pimpinan komunitas Islam di sini dan orang yang baik.”
Walker dan Faiza bergantian menceritakan kejadian yang baru saja mereka alami. Mrs. Fatima berkali-kali beristighfar. Setelah itu Ustadz Hasan dan istrinya dan anaknya berterima kasih dengan tulus pada Walker.
“Mr. Walker, bolehkah saya tahu mengapa Anda menolong saya?”
Mendadak wajah Walker murung, dia tersenyum.
“Aku sangat membenci siapa saja yang memusuhi orang-orang Islam.” Walker berdiri.”Well, aku minta diri. Mr. Hasan, mungkin aku akan berkunjung lagi ke sini, berbincang dan berdiskusi dengan Anda.”
“Pintu apartemen ini terbuka untuk Anda, Mr. walker.” Ustadz Hasan menjabat erat tangan Walker.
“Terima kasih untuk kopinya.” Walker mengangguk pada Ustadzah Fatima dan Faiza.
Walker tersentak bangun dengan peluh membanjir. Sudah lewat dari tengah malam. Walker menangis, menutupi wajahnya dengan tangan.
“Tatapan matamu itu, cahaya matamu itu….. I miss you, kau tahu itu, honey… Apakah kau maafkan aku?”
terburu-buru Walker menghampiri lemari es dan mengambil sekaleng bir. Ditenggaknya habis. Diremasnya kaleng bir dan dilemparnya mengenai dinding.
Ini kali keenam Walker menemui Ustadz Hasan. Kali ini Walker meminta waktu dimana hanya ada Ustadz Hasan di apartemennya.
“Anda pucat Mr. walker, sakitkah?”
“No…fisikku baik-baik saja. Mentalku, kukira.”
“Sakit kepala? Saya punya aspirin di kotak obat.”
“no, thanks.” Walker tersenyum tipis.
“Aku akan menceritakan sesuatu, Mr. hasan. Dan aku siap kalau Anda marah setelah mendengarnya. Bahkan aku siap jika harus kehilangan nyawa di tangan Anda.”
Ustadz Hasan terkejut.
“anda tahu, pekerjaanku adalah petugas keamanan di sebuah hotel. Hampir dua tahun ini. Ya, begitulah, jauh sekali dengan sebelum ini. Andai Anda tahu mengapa kini aku jadi seperti pembela Islam. Maukah Anda tahu?”
ustadz Hasan mengangguk.
Aisha menutup pintu rumah dan menguncinya.
“Aku tahu setiap malam Kamis jam segini kau pulang. Setelah mengajar sekumpulan orang di rumah salah satu dari kalian.”
aisha berbalik.
“Siapa kau?”
“Dan aku tahu malam ini kau sendirian, teman-temanmu pergi ke satu-satunya masjid di kota ini.”
“Bagaimana kau bisa masuk kemari?”
“Salah satu keahlianku.”
Walker menghunus pistolnya yang sudah dipasangi peredam suara.
“Mau apa kau?”
“Ada yang menyuruhku untuk membunuhmu. 15 ribu dollar.”
“Siapa dan mengapa?”
aisha meletakkan tas cangklongnya di sofa.
“Rahasia. Kata mereka kau banyak mengganggu.”
Aisha tersenyum.
“Kurasa aku tahu pihak mana yang menyuruhmu. Tinggi juga bayaranmu.”
“Berdoa’lah. Aku akan menembakmu beberapa kali agar kau mati tanpa kesakitan. Aku tak biasa menyiksa wanita.”
Aisha tersenyum lagi. Ditatapnya mata Walker. Laki-laki itu terkesiap.
“Sudah dari tadi aku berdo’a. alhamdulillah. Aku akan berteriak dan melawanmu. Jika aku mati semoga aku menjadi syahidah.”
“Kau…tenang sekali.”
Aisha melangkah maju. Walker menembak empat kali. Aisha jatuh ke belakang. Walker menghampiri.
Darah mengalir ke lantai. Aisha tersenyum. Napasnya tersengal.
“La..ilahail…lal..lah…”
mata Aisha terpejam.
Walker terpaku beberapa saat.
“Jangan mati…no. Apa yang kulakukan?”
walker mengguncang-guncang tubuh Aisha.
“Jangan mati…,” isak Walker.
“Kuurungkan niatku malam itu untuk menghabisi orang-orang yang menyuruhku membunuh Aisha. Aku berusaha berpikir jernih. Bisa-bisa teman-teman Aisha menerima pembalasan dendam. Aisha menyayangi teman-temannya, aku tahu itu.”
“Setahun kemudian orang-orang itu kubunuh. Jejakku rapi. Tapi akulah pembunuh Aisha. Pembalasan itu sama sekali tak berguna.”
Walker tak mempedulikan air matanya yang mengalir.
“Sebagai pembunuh bayaran, Aisha adalah korbanku yang terakhir. Wanita yang kucintai sampai kini…. Saat dia terbaring di lantai, menjelang kematiannya, seketika aku jatuh cinta. Tatapan matanya itu, cahaya matanya itu… Senyumnya…”
bahu bidang Walker terguncang. Lama.
Walker meletakkan koper di meja.
“Bukalah, Mr. Hasan.”
Ustadz Hasan membuka koper. Wajahnya pias.
“Pistol M9 9 mm Beretta, standar mariner AS. terisi penuh, berperedam.
“Tolong aku, kumohon tembak aku. Di sini, di mana saja. Semoga Aisha, Anda dan semua orang Islam memaafkanku.”
Hening lama.
Ustadz Hasan tersenyum teduh sekali. Sorot matanya memancarkan kelembutan. Tiba-tiba Walker merasa amat tenteram.
slw, 01-07032007



0 comments:
Posting Komentar